Geopolitik Yaman Mengguncang Pasar Valas
Pasar keuangan Indonesia dibuka dengan sentimen negatif pada Senin (5/10/2026). Menurut CNBC Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat bergerak di zona hijau dengan penguatan 0,40% ke level 6.060 pada pukul 10:03 WIB. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama di pasar valas. Rupiah tercatat melemah 0,29% ke level Rp 17.920 per dolar AS, melanjutkan tren pelemahan yang dipicu oleh serangan yang dilancarkan oleh kelompok Houthi di Yaman.
Tekanan Inflasi Impor dan Biaya Input
Pelemahan nilai tukar rupiah bukan sekadar fenomena kurs, melainkan memiliki implikasi makroekonomi yang nyata. Kajian dari tim ekonom BCA dalam laporan bertajuk "IHK: Terombang-ambing oleh Badai" mengungkapkan bahwa inflasi September 2026 sebesar 3,28% secara tahunan telah terdorong oleh fluktuasi kurs.
"Inflasi harga grosir yang meningkat (mencapai 6,76% YoY pada September dibandingkan 6,18% pada Agustus) menunjukkan tekanan harga input yang berlanjut di kalangan produsen," ujar tim ekonom BCA.
Kami menilai bahwa lonjakan inflasi grosir ini merupakan sinyal awal bahwa biaya produksi akan naik. Meskipun dampak langsung terhadap barang impor akhir masih terbatas karena mayoritas merupakan barang input industri, risiko penularan ke harga konsumen dalam beberapa bulan ke depan sangat nyata.
| Indikator | September 2026 | Agustus 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Inflasi Harga Grosir (YoY) | 6,76% | 6,18% | +0,58% |
| Inflasi Konsumen (YoY) | 3,28% | - | - |
| Kurs Rupiah (USD/IDR) | 17.920 | 17.868 | Melemah |
Faisal Rachman, Kepala Departemen Riset Makroekonomi Bank Permata, menambahkan bahwa pelemahan rupiah akan meningkatkan inflasi barang impor dan menaikkan biaya bahan baku. "Risiko ini telah tercermin pada inflasi dari sisi penawaran yang melebihi inflasi dari sisi permintaan," katanya. Ini mengindikasikan bahwa peningkatan biaya produsen akan diteruskan ke harga konsumen.
Dinamika Komoditas Global
Dari sisi komoditas, pasar menunjukkan dinamika yang terfragmentasi. Harga minyak turun di tengah upaya negara G7 untuk melepas 100 juta barel cadangan minyak mentah. Namun, harga batu bara terus menguat dan diramal bisa mencapai USD 200 per ton. Bagi emiten energi di Indonesia, khususnya yang berbasis batu bara, kondisi ini berpotensi menjadi katalis positif bagi pendapatan, meskipun harus diimbangi dengan tekanan biaya logistik dan input lainnya akibat pelemahan rupiah.
Kami menilai bahwa kombinasi antara pelemahan rupiah dan kenaikan harga komoditas global menciptakan lingkungan yang menantang bagi importir. Tim ekonom BCA menyebut situasi ini sebagai "pukulan ganda". Investor disarankan untuk mewaspadai sektor-sektor yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor, sementara sektor komoditas domestik seperti batu bara mungkin masih memiliki ruang untuk mempertahankan margin laba di tengah kenaikan harga global.
Sumber
- Video: Yaman Lancarkan Serangan, Rupiah Anjlok ke Rp 17.900 per USD — CNBC Indonesia
- Waspada! Rupiah Terus Keok Lawan Dolar AS Mulai Buat Harga Barang Naik — CNBC Indonesia



