Lonjakan Ketidakpastian: IHSG Anjlok 2,59% ke Level Terendah 3 Bulan
JAKARTA — Pasar modal Indonesia mengalami tekanan berat pada perdagangan Senin (12/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 2,59% atau 157,61 poin ke level 5.975,78. Penurunan ini menandai level terendah IHSG dalam tiga bulan terakhir, tepatnya sejak 10 Juli 2026, menurut laporan CNBC Indonesia.
Pergerakan indeks yang awalnya sempat menyentuh 6.128,72 di awal sesi, berbalik arah tajam ke zona merah. Tekanan jual masif terjadi di seluruh sektor, dengan sektor utilitas memimpin koreksi hingga nyaris 10%. Kondisi ini memperpanjang tren bearish IHSG yang dalam 21 hari perdagangan terakhir hanya 6 kali berakhir di zona hijau.
Apa yang Memicu Anjloknya IHSG?
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa sentimen negatif didominasi oleh ketidakpastian geopolitik global. Konflik antara kelompok Houthi di Yaman dan Arab Saudi, termasuk serangan ke infrastruktur minyak Aramco, memicu lonjakan harga energi. Harga minyak Brent yang bertahan di atas $100 per barel menjadi beban bagi inflasi global dan daya beli konsumen.
Dari sisi domestik, kekhawatiran akan potensi capital outflow di pasar obligasi dan isu MSCI turut menekan kepercayaan investor asing. Rupiah ditutup melemah 0,08% ke level Rp17.913 per dolar AS, yang semakin membatasi ruang gerak IHSG.
Dampak ke Portofolio dan Emiten Besar
Aksi jual terfokus pada saham-saham berkapitalisasi besar. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi pemberat utama dengan menyumbang pelemahan 15,72 indeks poin, ditutup di Rp965. Disusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) di Rp2.390 (penekanan 12,04 poin), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di Rp5.950 (9,11 poin), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) di Rp1.505 (8,63 poin).
Kami menilai, pelemahan sektor energi dan infrastruktur yang masing-masing turun 5,88% dan 4,72% menunjukkan rotasi aset defensif yang belum jelas arahnya. Investor institusional berpotensi memindahkan dana ke instrumen safe-haven seperti emas atau obligasi pemerintah AS sementara waktu, mengingat volatilitas pasar yang tinggi.
Outlook dan Sentimen Pekan Ini
Pekan ini akan menjadi krusial bagi pasar. Pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bangkok akan dihadiri Chairman The Fed Kevin Warsh, yang pidatonya akan menjadi penentu arah suku bunga global. Selain itu, rilis data inflasi AS dan China pada Rabu mendatang akan menjadi katalis berikutnya.
Dalam negeri, hawa politik menjelang peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran juga menjadi faktor risiko tambahan. Kami merekomendasikan investor untuk menjaga rasio cash dan memantau ketat pergerakan Rupiah serta arus dana asing sebelum mengambil posisi baru di saham-saham siklikal.
"Sentimen negatif berasal dari ketidakpastian di global yang masih tinggi... serta berbagai isu mengenai MSCI," ujar Ratna Lim.



