JAKARTA — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran menegaskan posisinya untuk menutup rapat Selat Hormuz hingga Amerika Serikat memenuhi tujuh syarat perjanjian sementara. Pernyataan tegas ini, yang dikutip oleh CNBC Indonesia pada Minggu (4/10/2026), menandai eskalasi signifikan dalam dinamika pasokan energi global yang selama ini menjadi tulang punggung perdagangan internasional.
"Pihak Amerika, yang mengatakan hal berbeda di media, baru saja mengajukan proposal lewat seorang mediator. Namun mereka perlu tahu periode mengulur-ulur proses dan mendikte tuntutan sepihak telah berakhir," tegas Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf.
Menurut sumber berita, AS telah mengirimkan balasan proposal diplomatik beberapa waktu lalu. Namun, Teheran menolak untuk bernegosiasi di bawah tekanan. Qalibaf menekankan bahwa Iran tidak akan membuka jalur pelayaran strategis tersebut berdasarkan Nota Kesepahaman Islamabad kecuali seluruh syarat terpenuhi. Sikap keras ini mengindikasikan bahwa Iran tidak lagi memandang jalur diplomasi sebagai opsi utama jika tidak ada komitmen nyata dari Washington.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menambahkan dimensi ancaman militer dalam pernyataan resminya. Ia menyatakan bahwa jika rencana penyelesaian yang diajukan Teheran diterima, Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam waktu tujuh hari. Namun, ia juga memperingatkan bahwa Iran siap mengambil tindakan apapun jika AS memilih jalur militer. "Jika mereka kembali pada solusi militer, kami lebih siap dari sebelumnya dan akan mengambil tindakan apapun untuk membela diri," ujar Araghchi.
Dampak ke Pasar Global dan Aset Riil
Penutupan Selat Hormuz merupakan skenario black swan bagi pasar energi global. Kami menilai bahwa berita ini akan menciptakan tekanan bearish yang signifikan terhadap pasar saham, khususnya sektor teknologi AS yang sensitif terhadap inflasi dan suku bunga, serta emiten energi di Bursa Efek Indonesia (IDX) yang bergantung pada stabilitas harga minyak dunia.
Dari sisi komoditas, potensi gangguan pasokan minyak mentah melalui selat tersebut berpotensi mendorong harga CLUSDT (Minyak Mentah WTI) ke level yang lebih tinggi dalam jangka pendek. Investor cenderung beralih ke aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik, yang secara historis menguntungkan harga GOLD (Emas). Kami memperkirakan volatilitas pasar akan meningkat tajam dalam beberapa sesi perdagangan mendatang seiring dengan upaya pasar menyesuaikan ekspektasi baru terkait risiko pasokan energi.
Investor institusional disarankan untuk meningkatkan alokasi pada aset defensif dan memantau ketat perkembangan negosiasi diplomatik antara Teheran dan Washington.
Sumber
- Iran Tegas Tutup Selat Hormuz sampai AS Penuhi Syarat — CNBC Indonesia



