NEW YORK — Ketahanan Bitcoin (BTC) diuji pada Senin (5/10) ketika aset kripto terbesar di dunia ini bertahan di kisaran $86.000, meskipun Indeks Dolar AS (DXY) melonjak ke level 102,5, tertinggi dalam hampir 18 bulan. Dinamika ini menciptakan narasi pasar yang kompleks: di satu sisi, pelemahan data ekonomi AS mengurangi tekanan pengetatan moneter, namun di sisi lain, penguatan dolar dan imbal hasil obligasi jangka panjang yang tinggi tetap menjadi hambatan bagi aliran modal ke aset berisiko.
Menurut data yang dikutip oleh CoinDesk, pasar bereaksi positif terhadap laporan tenaga kerja AS September yang mengecewakan. Pengusaha AS hanya menambah 29.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi 84.000, sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%. Data ini mendorong para trader untuk menghapus taruhan pada kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) pada bulan Oktober. Namun, imbal hasil obligasi Treasury AS 10-tahun tetap bertahan di 5,25%, yang menurut analis QCP Capital, didorong oleh pasokan obligasi yang besar dan kekhawatiran fiskal.
"Penguatan dolar biasanya menciptakan headwind bagi aset berisiko dengan meningkatkan biaya pelunasan utang yang dinominalkan dolar," tulis analis pasar. "Namun, Bitcoin menunjukkan ketahanan yang tidak biasa di tengah tekanan makro ini."
Dari sisi fundamental korporasi, aktivitas akumulasi oleh perusahaan treasury kripto terus berlanjut. Strategy (MSTR) menambahkan 334 Bitcoin senilai $28,7 juta, membawa total kepemilikan menjadi 848.000 BTC. Perusahaan ini juga melaporkan keuntungan sebesar $20,91 miliar dari kepemilikan Bitcoinnya pada kuartal ketiga. Sementara itu, Bitmine Immersion Technologies (BMNR) menambah 15.112 Ether (ETH) ke dalam simpanannya, mencapai total 6,01 juta ETH atau sekitar 4,9% dari pasokan total Ether. Strive (ASST) juga menambah 2.000 Bitcoin senilai $169 juta, menjadikan total asetnya mendekati $2,5 miliar.
Secara teknikal, munculnya pola golden cross pada grafik Bitcoin untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun memberikan sinyal bullish jangka panjang. Meskipun demikian, investor tetap waspada menjelang rilis notulen FOMC pada Rabu mendatang. Kami menilai bahwa kombinasi antara akumulasi institusional yang masif dan pelemahan data tenaga kerja AS berpotensi menjaga lantai harga Bitcoin di atas $85.000, meskipun volatilitas tetap tinggi akibat ketidakpastian kebijakan moneter global.
Analisis ini disusun berdasarkan data pasar terkini dan tidak merupakan rekomendasi jual atau beli.



