JAKARTA — Pasar keuangan Indonesia memasuki fase baru dalam pendalaman struktural setelah Bank Indonesia (BI) secara resmi memperluas cakupan surat berharga yang dapat digunakan sebagai agunan dalam operasi moneter. Langkah strategis ini, yang diumumkan pada 1 Oktober 2026, menandai pergeseran paradigma dari pengelolaan likuiditas konvensional menuju operasi moneter yang lebih terintegrasi dengan pasar sekunder obligasi korporasi.
Menurut laporan CNBC Indonesia, perluasan underlying ini mencakup obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi, sebuah langkah yang bertujuan memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter ke sektor riil. Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa efektivitas kebijakan sangat bergantung pada kedalaman, likuiditas, dan efisiensi pasar keuangan. "Efektivitas kebijakan moneter sangat bergantung pada transmisi melalui pasar keuangan yang dalam, likuid, dan efisien," ujar Destry dalam acara peresmian yang turut dihadiri Menteri Keuangan Suahasil Nazara dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi.
Dampak Riil pada Likuiditas dan Harga
Implementasi kebijakan ini bukan sekadar wacana, melainkan telah menunjukkan dampak kuantitatif yang signifikan. Data BI menunjukkan bahwa rata-rata volume transaksi surat berharga PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) mengalami lonjakan dramatis. Dari Rp31,9 miliar per hari pada Oktober 2025, volume tersebut melonjak menjadi Rp179,9 miliar per hari pada akhir Agustus 2026. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa mekanisme repo dengan agunan korporasi berhasil menarik minat pelaku pasar untuk lebih aktif dalam transaksi sekunder.
Selain volume, komposisi kepemilikan juga berubah. Kepemilikan bank terhadap obligasi SMF meningkat 18%, dari Rp8,69 triliun menjadi Rp10,22 triliun. Kami menilai bahwa pergeseran kepemilikan ini merupakan sinyal positif bagi stabilitas pasar, di mana institusi perbankan mulai memandang obligasi korporasi sebagai instrumen likuiditas yang setara dengan surat berharga negara (SBN) dalam konteks manajemen risiko likuiditas harian.
Ekspansi ke SMI dan Implikasi Portofolio
BI tidak berhenti pada satu emiten. Cakupan diperluas dengan menambahkan obligasi dan sukuk PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Repo perdana menggunakan surat berharga SMI telah dilakukan pada 28 September 2026 dengan nilai Rp60 miliar. Meskipun nilai awal masih relatif kecil dibandingkan total transaksi SMF yang mencapai Rp1,25 triliun, langkah ini membuka pintu bagi emiten-emiten infrastruktur lainnya untuk masuk ke dalam ekosistem operasi moneter BI.
"Kami di Kementerian Keuangan, bersama LPS dan Danantara selaku sovereign wealth fund, akan terus menjaga perekonomian Indonesia dan membangun kredibilitas kebijakan bagi seluruh investor, dimanapun mereka berada," kata Suahasil Nazara.
Analisis Intelijen Pasar
Dari perspektif investasi, langkah BI ini berpotensi menjadi katalis utama bagi indeks harga saham gabungan (IHSG), khususnya di sektor perbankan dan emiten-emiten yang memiliki obligasi berkualitas tinggi. Peningkatan likuiditas di pasar sekunder obligasi korporasi akan mengurangi yield spread antara obligasi korporasi dan SBN, yang pada gilirannya dapat meningkatkan valuasi aset-aset terkait.
Kami menilai bahwa kebijakan ini akan mendorong price discovery yang lebih efisien. Dengan adanya jaminan likuiditas melalui mekanisme repo BI, investor institusional akan lebih berani mengakumulasi obligasi korporasi, yang pada akhirnya akan menurunkan biaya modal bagi perusahaan-perusahaan di sektor strategis seperti perumahan dan infrastruktur. Bagi investor ritel, ini adalah sinyal bahwa pasar obligasi Indonesia sedang menjadi lebih dalam dan likuid, mengurangi risiko illiquidity premium yang biasanya melekat pada instrumen korporasi.
Secara keseluruhan, langkah BI ini merupakan fondasi penting untuk menciptakan pasar keuangan domestik yang tidak hanya dalam, tetapi juga tangguh terhadap guncangan eksternal.
Sumber
- BI Buka Jalan Obligasi Korporasi Jadi Agunan Repo Operasi Moneter — CNBC Indonesia



